Minggu, 03 Januari 2016

Gara-Gara Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Tak terasa udah masuk tahun baru aja nih. Brasa tua...ckck. Tulisan ini adalah tulisan pertama di tahun 2016, moga menjadi awal yang baik bagi perkembangan blog yang belum pun seumur jagung ini. Blog ini saya buat bulan September 2015, walaupun beberapa posting saya import dari blog lawas saya. Yah... sebenarnya sayang meninggalkan blog lama, yang penuh kenangan.    

Seperti halnya pindah rumah, harus kehilangan tetangga, teman-teman a.k.a followers yang saya juga ikuti perkembangannya. Walaupun sebagian besar mereka pun sudah vakum ngeblog, sama halnya dengan saya saat itu, namun beruntung beberapa di antara kami masih berteman di beberapa media sosial, jadi silaturrahim masih tetap terjaga. Punya teman yang sama-sama suka nulis itu motivasi tersendiri untuk selalu aktif menulis. Namun sayang, setelah mereka vakum, saya pun juga demikian.

Rumah baru, akan ada cerita baru.


Memang untuk memulai dari awal itu sulit, untuk komitmen menulis pun SANGAT sulit, apalagi dengan rutinitas saya yang seperti sekarang. Sudah menjadi kelemahan saya yang hanya bisa fokus di satu hal.

Well, balik ke Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Gila, peccccaahhhh.... film ini berhasil membuat saya menahan air mata setiap kali menontonnya. Apalagi film ini dibintangi dua aktor favorit saya yang aktingnya TOTAL, Herjunot Ali dan Reza Rahadian. Saya tidak pernah bosan menonton film yang saya suka meskipun berulang-ulang. Setiap saya nonton feel-nya tetap sama. Tidak ada yang berubah. Begitu pun dengan film ini. Entah ini "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" yang ke berapa yang saya tonton.

Yah... Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang disiarkan ulang tadi malam oleh salah satu stasiun teve swasta membuat saya throwback ke masa-masa pertama kali jatuh cinta pada sastra.



Sastra ...
Seperti halnya artefak dari zaman purba.
Jika tidak pernah ditemukan oleh arkeolog dengan berjuta ilmu pengetahuan,
dan bila hanya ditemukan oleh orang biasa yang tak suka menerka, 
maka selamanya akan menjadi benda mati.

Tapi setelah arkeolog menimang-nimangnya dengan seribu keingintahuan,
mengosoknya, membersihkannya dengan kuas dengan segudang ketelitian,
dan menerka-nerka angka tahun lahir pada tiap benda yang dikubur di tanah,
meski tak jelas akuratnya,
benda itu menjadi berharga. 

Begitu pula sastra.
Sastra sangat luas.
Sastra itu goresan di bidang tiada tepi.
Sastra itu hidup, dan selamanya akan menghiasi kehidupan.
- Ratih Kumala -


Saat itu tugas utama saya hanya belajar. Kepatuhan saya pertama pada orang tua dan selanjutnya kepada guru. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia-lah yang menjadi mak comblang antara saya dan sastra. Kami mendapat tugas untuk mensinopsis sebuah karya sastra Indonesia. Untuk memilih roman atau novel yang akan disinopsis, saya mencoba membaca beberapa karya para sastrawan Indonesia. Mulai saat itulah saya mengenal adanya sastra angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan '45, maupun Angkatan '66. 

Pertama kali fokus pada karya sastra yaitu pada karya buya HAMKA, sastrawan yang produktif di empat angkatan sekaligus.

Karya prosa yang saya baca kebanyakan mengambil cerita tentang kasih tak sampai, kebetulan atau tidak ternyata itulah tren cerita saat itu. Alhasil selalu baper deh tiap kali baca. Karya yang paling saya suka adalah karya buya HAMKA, selain karena gaya ceritanya yang menarik, juga karena adat budaya yang kental.

Dulu karya buya HAMKA hanya dapat dilihat dari barisan kalimat yang tersusun hingga berlembar-lembar yang kata guru saya disebut roman, tapi saya lebih suka menyebutnya novel. Namun kini dua karya besar buya HAMKA sudah dapat dinikmati dalam bentuk film, yaitu Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Adalah sangat bahagia, jika ketika deretan huruf kemudian menjelma menjadi tanyangan dua dimensi. Makanya saat menonton dua film yang diadaptasi dari novel karya buya HAMKA itu, saya merasa tokoh-tokoh yang sebelumnya hanya bisa saya eja namanya kini seakan benar-benar ada dan hidup. 

Tenggelamnya Kapal Vander Wijck.




Jelas sudah sangat terlambat jika ingin menulis sinopsis film ini. Sudah banyak artikel yang membahas hal ini, semenjak awal penayangan film ini tahun 2013 di bioskop. Namun, menurut saya cerita ini tak lekang oleh waktu, kisah cinta Zainuddin dan Hayati masih sangat layak diperbincangkan. Film tentang harapan, tentang penyesalan, tentang penantian, tentang semangat bangkit setelah sempat terjatuh, kemudian bangkit dan terjatuh kembali namun tetap memilih untuk bangkit, tentang penantian, tentang balas dendam, dan tentang takdir Tuhan yang disebut dengan “Jodoh”. Dan semua itu terangkum dalam sebuah kisah cinta klasik nan bermakna. Terbukti karya yang awalnya ditulis dalam bentuk cerita bersambung pada sebuah koran harian, kemudian dibukukan, dan pengarangnya pun telah lama menghadap Sang Khalik, namun karyanya masih terpajang di toko-toko buku besar. Entah sudah cetakan keberapa.

Benarlah jika orang bijak berkata, "Jasad manusia hebat boleh menjadi tanah, namun karyanya akan terus dikenang".

Banyak quote yang saya suka pada film ini antara lain “Jangan pernah bersedih. Jangan putus asa. Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan.” - Buya HAMKA.

Walaupun terdapat ending cerita yang berbeda antara film dan novel aslinya, menurut saya itu tak masalah. Pada cerita buya HAMKA, setelah Hayati meninggal Zainuddin menjadi sakit-sakitan dan akhirnya kembali ke Yang Maha Kuasa. Namun Sunil Soraya mengubahnya, dengan Zainuddin tetap hidup dengan membawa semangat baru.

Sebenarnya saya lebih suka cerita versi originalnya, Zainuddin wafat. Tamat. Itu lebih jelas endingnya, dari pada ia tetap hidup, akan menimbulkan tanda tanya, apakah ia akan tetap sendiri dan menjaga hatinya untuk Hayati? Atau akan ada orang lain yang akan menggantikan posisi Hayati? Bukankah kehidupan Zainuddin harus tetap berlanjut? Ah... entahlah! Itu hak sutradara tanpa merusak inti cerita.

Jikalah saya sebagai sutradara, mungkin saya akan membuat ending juga dengan versi saya.

Saat Zainuddin menemui Hayati yang terbaring lemah setelah tenggelamnya kapal tersebut, Hayati menjadi lebih bersemangat untuk hidup, tambah lagi ketika ia mengetahui bahwa Zainuddin masih sangat mencintainya. Akhirnya, berkat kekuasaan Yang Maha Kuasa, Hayati sembuh. Dan ia pun hidup bahagia di Surabaya bersama Zainuddin, kekasihnya. Happy ending.

Endingnya suka-suka...ckckck...

Tapi ending penulis dan sutradara sudah top markotoplah pokoknya. Membuat emosi teraduk-aduk tak menentu. Membuat jantung berdegup tak seirama. Membuat darah berdesir mengalir dengan derasnya. 

Yah itu baru satu dari sekian banyak karya sastra Indonesia, bisa bayangin kan bagaimana karya-karya sastrawan lainnya. Kalau boleh request, saya sangat ingin melihat Air Mata Seni karya Rustam Effendi yang difilmkan, mungkin akan melelehkan air dari kantung mata, sama halnya dengan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Sekarang, sudah tahun 2000an, banyak penulis-penulis hebat bermunculan dengan karya-karya yang luar biasa, seperti A. Fuadi, Andrea Hirata, Tere Liye, Dee Lestari, bahkan penulis muda seperti Raditya Dika dan Alit Sutanto.

Meskipun gaya menulis mereka berbeda-beda. Namun setiap karya memuaskan masing-masing peminatnya. Seperti saya yang menikmati setiap karya mereka.

But, actually I prefer to the story that make me "baper" (koreksi englishnya :p). Saya lebih suka penulis yang pintar bermain diksi, gaya bahasa yang ketika dibaca langsung dijadikan quote, yang endingnya tak tertebak, yang kalau udah baca kata terakhir di lembar terakhirnya membuat terdiam sejenak kemudian menarik napas panjang, yang ketika selesai membaca membuat semangat menulis itu bergelora. Ah...

Salah satunya Tabularasa karya Ratih Kumala. Novel ini salah satu karya sastra yang dulunya pernah membuat saya terobsesi ikutan Sayembara Novel DKJ, namun disayangkan semangat itu padam dengan sendirinya :(. Siapa sangka novel juara 3 Sayembara Novel DKJ Tahun 2003 yang tak sengaja saya temui pada tahun 2009 di salah satu toko buku terbesar di kota saya itu sampai sekarang sudah tiga atau empat kali saya baca. Siapa Ratih Kumala? Boleh digoogling deh... banyak FTV yang disutradarainya telah ditayangkan di stasiun teve nasional.

Ah.... melihat mereka-mereka yang sukses dengan karya-karya mereka, rasanya iri maksimal. Boleh dong iri dalam bidang positif. Saya belajar banyak dari mereka. Berharap untuk menjadi seperti mereka rasanya mustahil. Tapi saya akan melakukan apa yang saya bisa, seperti belajar 'istiqomah' menulis di blog ini, minimal 4 posting tiap bulannya. Dan saya akan menulis cerita fiksi bersambung dengan Tag: Coretan di Balik Sangkar, dan berharap cerita itu suatu saat minimal menjadi mini novel, seperti halnya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck milik buya Hamka. Yahh... anggap saja itu sebagai resolusi saya dalam bidang "menulis" untuk tahun 2016 ini. Semoga keinginan saya sejalan dengan keinginan Tuhan. Amin.

Tulisan 1.376 karakter ini adalah efek samping setelah rewacthing Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Yah... gara-gara Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck saya semakin bangga dengan sastra Indonesia.

13 komentar:

  1. wahhh bagus nih film kayanya sinopsisnya menarik, jadi pengen download filmnya mumpung lagi nyari referensi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ini film recomended pokoknya (o)

      Hapus
  2. sempat lihat film ini, buat nangis pacar saya :v sutradaranya sapa gan? mau ane golok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh Sunil Soraya, hati-hati ada terror golok...hehehe...

      Hapus
  3. tenggelamnya kapal van der wijck ini emang bikin mata enak. ada pevita soalnya :") tapi gue denger2 sih banyak yang bilang filmnya nggak sebagus ekspektasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ekspektasinya bakal ada drama yang menegangkan saat kapalnya tenggelam ya? Kalo iya brarti ekspektasi kita sama.... tp di luar itu ceritanya jempol kan ya untuk film Indonesia :)

      Hapus
  4. Waktu nonton film ini, terheran-heran dengan logat dan gaya bicara Zainuddin. Seperti orang baca puisi. Mantaplah Herjunot Ali, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya logat bicara pemain menjadi daya tarik tersendiri, tp mungkin bagi orang asli dari daerah itu lucu kali ya...ckck

      Hapus
  5. Ia film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ceritanya bagus,

    Ow di novel buya hamka zainudinnya mati ya,
    Pantasan di ending nya ada yang kurang gitu, zainudinnya nikah lagi dengan orang lain atau tetap setia dengan hayati

    BalasHapus
    Balasan
    1. endingnya memang sedikit beda, tapi punya taste tersendiri...

      Hapus
  6. Dari dulu pengen nonton tapi ga pernah kesampaian. Baca review ini jadi pengen download

    BalasHapus
  7. Wah ane ketinggalan nih, ane belum nonton :D

    BalasHapus

Komentar kalian motivasi menulis saya. Terima kasih atas komentarnya :)