Senin, 02 Januari 2017

Tere Liye: Bukan Cinta pada Pandangan Pertama

Assalamu’alaikum

Di coretan kali ini saya tidak akan menceritakan ke mana saja saya beberapa bulan belakangan, mengapa postingan kosong beberapa bulan, dan kenapa ini kenapa itu ... Ah, sudahlah tidak penting, syukur-syukur kalau ada yang sadar. Tapi alhamdulillah… memang ada yang sadar dan kehilangan, uhuk…  jadi terharu :’).

Baiklah, abaikan prolog di atas!

Kamu kenal Darwis Tere Liye? Kalau iya, kemungkinan besar hobi kita sama. Kalaupun tidak, mungkin hobi kita tetap sama. Yaitu membaca. Paling tidak, sekadar membaca berita online, atau stalking status medsos teman. Ehem.

*********************************************************************************

(Yang latar abu-abu cuma curcol, boleh di-skip :'D)

Saya seorang bookish? Tidak sepenuhnya salah, sama artinya juga tidak sepenuhnya benar.

Semasa sekolah, saya hanya membaca buku kalau ada ulangan atau waktu ujian. Jangankan buku ini itu, buku pelajaran pun dibuka seperlunya. Baiklah, itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan. 

Suatu ketika di sebuah event, saya ditanya “Apa buku favoritmu?” Hening. Bagaimana saya menjawabnya, toh belum ada satu bukupun yang berhasil saya baca sampai selesai. Untungnya jauh sebelum itu, saya sudah sangat suka “mengkoleksi” buku, entah itu akan dibaca atau tidak. Biasanya setelah saya membeli sebuah buku, saya meminjamkannya kepada seorang teman, teman saya akan membacanya, kemudian ia akan menceritakan garis besar cerita dalam buku tersebut. Akhirnya, saya tahu isi buku tersebut. Selesai. Alhasil saya menjawab jujur dan sekenanya. Bagaimana bisa seseorang yang suka nulis tapi tidak suka baca?  

Pernah kami mendapat tugas “meringkas buku”, bukan resensi ataupun sinopsis. Dan tak taggung-tanggung, mungkin inilah yang namanya takdir, entah kenapa dari ratusan atau mungkin ribuan buku di perpustakaan sekolah, saya memilh meringkas buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karya Idrus. Bagi yang tahu buku ini, bisa bayangkan bagaimana cara saya bisa meringkas setiap cerita dalam buku tersebut?

sumber: google
Dulu persis gini gambar covernya.

Ternyata buku yang saya kira novel itu adalah sebuah kumpulan cerpen. Satu buku yang sudah disetujui oleh guru tidak boleh diganti lagi, kalaupun mau diganti tidak boleh sama dengan teman. Repot. Mau tidak mau saya tetap membacanya dari Ave Maria (cerita pertama) sampai Jalan Lain ke Roma (cerita terakhir). Pencapaian luar biasa bagi saya, apalagi pas bagian naskah drama Kejahatan Membalas Dendam yang “terpaksa” saya ubah jadi bentuk prosa. Baru sadar sekarang, betapa dulu sangat berjuang untuk itu.

Dari yang mulanya “terpaksa” itu, entah ada karomah apa, saya jadi mulai suka membaca novel-novel sastra, ditambah lagi setelah saya dipertemukan dengan Tabularasa karya Ratih Kumala yang pernah saya coretkan singkat di sini. Hal itu terasa sebentar sekali terjadi, hingga akhirnya saya lulus sekolah kemudian melanjutkan kuliah dan “mengharuskan” saya lebih banyak membaca buku-buku non-fiksi. Pada bagian ini, saya merasa membaca hanya sekadar untuk menyelesaikan tugas, tidak lebih. Nah sampai pada titik ini, apa pantas saya dibilang bookish? Tidak menurut saya.

Tapi semua itu berubah. Sama hal dengan sebelumnya, entah ada karomah apa, semua serba tiba-tiba, setelah saya menyelesaikan tugas akhir kuliah. Dua tahun belakangan saya suka sekali membaca, membaca novel di waktu senggang dan membaca buku nonfiksi “kalau ada tugas”. Untuk tugas kali ini, entah itu dinamakan hobi atau tidak tapi rasanya lebih ringan dibanding membaca untuk menyelesaikan tugas kuliah. Tapi rasanya tetap belum sampai ke level bookish

*********************************************************************************

Balik lagi ke Tere Liye? Yah, coretan kali ini akan bercerita tentang ia, lebih tepatnya tentang karyanya. Jika ditanya apakah saya mengenal Tere Liye, jelas jawabannya adalah tidak. Tapi kalau ditanya apa saya tahu? Yah saya tahu beliau.

Tere Liye, sebenarnya adalah nama pena dari novelis yang bernama asli Darwis. Biografinya lumayan susah dicari. Di buku-bukunya pun tidak tercantum biodatanya, hanya ada kontak untuk menghubunginya. Penulis yang cukup misterius. Kalau di media online sih disebutkan ia ingin dikenal melalui karyanya bukan kehidupan atau latar belakang kehidupannya. Salut. 

Tere Liye inilah novelis yang membuat saya kembali suka membaca. Ia membuat saya jatuh cinta pada beberapa karyanya tapi “tidak pada pandangan pertama”. 

Novel Tere Liye pertama yang saya miliki adalah Hafalan Shalat Delisha. Jujur saja sampai detik ini saya belum pernah selesai membacanya, tapi saya tahu isi ceritanya. Seperti sebelumnya saya katakan, saya “membacanya” melalui teman saya. Pernah saya coba membacanya tapi kok yah tidak beranjak dari lima halaman pertama, kemudian ngantuk.

Sumber: google
Dulu, punya yang covernya gini.

Satu lagi kebiasaan buruk saya ketika membaca novel yaitu membacanya dari beberapa halaman terakhir. Jika saya bisa merangkai sendiri bagaimana awal ceritanya, maka tepat setelah membaca halaman terakhir saya anggap selesai. Begitu yang saya rasakan pada novel karya Tere Liye satu ini. Apalagi beberapa waktu kemudian novel tersebut difilmkan. Sempurna! saya semakin tahu jalan ceritanya dengan tanpa membaca. 

Padahal katanya, kalau baca novel satu ini bisa lebih nyesek, menguras air mata dibuatnya, setiap kejadian terasa nyata, tentang kesedihan, kehilangan, dan ketegaran seorang anak korban bencana Tsunami di Aceh. Namun sayang, sampai sekarang saya belum berkesempatan membacanya, dan novel itu sudah entah ke mana.

Nama “besar” Tere Liye tidak mampu membuat saya jatuh cinta pada novelnya yang pertama saya miliki. Banyak karya Tere Liye yang saya lewatkan begitu saja hingga akhirnya saya dipertemukan dengan Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin

"Ada beberapa novel yang kalau dibaca hanya bagian akhirnya malah bingung, mundur beberapa halaman, mundur lagi, sehingga mau tidak mau harus membacanya dari awal." 

Daun yang Jatuh tidak Pernah Membenci Angin termasuk kategori ini. #IMHO

Mulai dari novel itu, saya jadi ingin terus mengikuti novel karya Tere Liye walaupun, ada beberapa yang saya kurang suka, imbasnya cuma jadi pajangan di rak buku. Seperti novel Pulang dan Rindu, belum pernah berhasil dibaca sampai selesai. Mungkin karena diawali dengan cerita sejarah, atau …. ah mungkin cuma soal selera.   

The Best of Tere Liye yang pernah saya baca adalah:

Pertama, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin




Dari judul saja, sudah filosofis sekali kan ya? Buku ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang bernama Tania. Ia mengagumi seorang laki-laki yang selisih 14 tahun darinya. Tania dan adiknya, Dede, menjuluki laki-laki itu sebagai malaikat, malaikat yang menjanjikan masa depan mereka. Malaikat itu bernama Danar. Danar pertama kali bertemu dengan kakak beradik itu ketika mereka sedang mengamen di sebuah bis kota. Danar yang menjadi penumpang di bis kota itu merasa prihatin pada Tania dan Dede. 

Di buku ini diceritakan pula bahwa Danar yang sedari kecil tidak memiliki keluarga sangat senang bertemu dengan keluarga Tania. Ia menganggap ibu Tania seperti ibunya sendiri. Ia memberi modal untuk usaha kue ibu Tania, dan ia pun membuat Tania dan Dede bisa bersekolah lagi. Kebaikannya terus berlanjut hingga kedua anak itu beranjak dewasa, bahkan terus berlanjut meskipun ibu telah tiada.

Menurut saya cerita ini benar-benar dimulai saat Tania sudah beranjak dewasa. Saat Tania sadar arti dari rasa kagumnya itu adalah cinta. Ia menyimpan rasa itu pada Danar, yang ia sendiri panggil om. Semakin dewasa, selisih umur mereka semakin tidak terlihat. Tania tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas. Namun sayang ending buku ini tidak seindah dongeng Cinderella. Agak nyesek juga sih pas tahu kalau sebenarnya Danar juga menyukai Tania. Tapi apa daya takdir cinta mereka sudah diatur oleh si penulis. Mau kita apa juga, yah begitulah ceritanya. Kasih tak sampai :')           

Buku ini seolah menyihir lantai tertinggi bangunan toko buku terbesar menjadi tempat yang sangat menyenangkan sekaligus menenangkan. Dari buku ini percaya atau tidak, saya menjadi sering berdiam diri sejenak setiap kali sedang berada di lantai dua (tertinggi) toko buku terbesar di kota kami.

Kedua, Rembulan Tenggelam di Wajahmu



Judulnya cukup melankolis ya, malah ada teman yang bilang cukup "lebay". Upss... terlepas dari judulnya, ini adalah buku Tere Liye favorit saya. Novel ini mampu membuat emosi saya berubah-ubah dalam waktu yang singkat. Prihatin, sedih, bahagia, kesal, marah, tegang, semangat, merasa hilang dan banyak lagi. Di sini saya seolah-olah sudah membaca buku ini selama 60 tahun, sesuai umur tokoh yang diceritakan di buku ini.

Adalah Ray (Rehan Raujana) yang menjadi bintang utama dalam buku ini. Buku ini menceritakan tentang Ray yang sakit dan diberi kesempatan luar biasa. Kesempatan itu diberikan kepadanya hanya karena ia sering memuji rembulan yang selalu membuatnya tenang, sehingga tanpa disadari ia telah memuji ciptaan Tuhan.

Ray diberi lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan semua pertanyaannya akan dijawab langsung oleh "seseorang yang berwajah ramah", yang dalam buku ini sepertinya bukan manusia biasa. Kesempatan itu seperti memutar kembali semua kisah hidup Ray sejak ia kecil sampai ia jatuh sakit. Perjalanan hidupnya luar biasa, dari ketika ia tinggal di panti asuhan, di rumah singgah, di desa bersama keluarga kecilnya, sampai ia menjadi orang yang sukses, penuh drama dan petualangan.

Kesempatan. Lima pertanyaan dengan lima jawaban. Kesempatan itu berhasil menjawab semua pertanyaan besar yang selama ini berkecamuk dalam hidup Ray, sehingga ia akhirnya mengerti makna hidup dan kehidupan.

Sederhana sekali pesan yang disampaikan oleh buku ini bahwa, pada dasarnya kehidupan adalah sebuah proses sebab akibat. Sesuatu yang kita kerjakan mungkin adalah sebab bagi orang lain begitu pula sebaliknya. Sederhana namun penuh makna.  

Novel 426 halaman ini adalah novel tebal pertama yang berhasil saya baca dalam waktu yang singkat. Sekali mulai baca, susah sekali berhenti dari kisah yang satu ini. Tere Liye mampu merangkai potongan-potongan cerita menjadi suatu cerita utuh yang memesona. Para pembaca seolah dihipnotis untuk membaca bab demi bab.

Sama halnya dengan buku sebelumnya, novel ini kembali menyihir saya menjadi suka sekali melihat bangunan gedung yang tinggi menjulang. Salah satu gedung tinggi di kota kecil kami, tepat berada di sebelah kiri toko buku terbesar di kota kami. Setiap mengunjungi toko buku ini, beberapa kali saya berdiam diri sejenak di halaman parkir sambil memandangi bangunan tinggi di sebelahnya. Imajinasi saya mengabakan di ujung lantai tertinggi gedung itu ada seseorang laki-laki. Laki-laki itu bernama RAY, Rehan Raujana.
  
Ketiga, Hujan



Hujan. Buku ini adalah novel ketiga karya Tere Liye yang saya baca. Cukup tipis jika dibandingkan novel sebelumnya, hanya 320 halaman.

Sebagaimana tertulis di cover belakangnya, buku ini menceritakan tentang persahabatan, cinta, perpisahan, melupakan, dan hujan. Ekspektasi saya pada buku ini yaitu Tere Liye akan bercerita tentang persahabatan yang berubah menjadi cinta, kemudian harus berpisah dan saling melupakan, salah satu mereka menangis di bawah derai hujan. Sinetron.

Namun, tidak.

Di luar dugaan, buku ini malah bercerita tentang Esok dan Lail dengan setting waktu tahun 2040-an. Dua anak yang bertemu dan selamat dari sebuah bencana hebat yang terjadi pada 21 Mei 2042. Esok berhasil menyelamatkan Lail kala itu, namun sayang ibu Lail tidak tertolong dan harus tertimbun di terowongan kereta api bawah tanah. Ayahnya yang sedang bekerja di kantor juga tak terselamatkan. Jadilah Lail sebagai anak yatim piatu. Setelah itu, dimulailah kisah Esok dan Lail sampai mereka beranjak dewasa.

Di buku ini, Tere Liye memperkenalkan alat canggih masa depan yang mampu menghapus ingatan sesuai kehendak kita. Lail adalah gadis yang mulanya ingin menghapus kenangan yang menyakitkan baginya, termasuk mengapus ingatan tentang Esok. Sebelum semuanya terhapus oleh sistem, Lail mengingat setiap detail kejadian yang pernah dialaminya. Setiap kali Lail mengingat, maka mengalir pula cerita dalam buku ini.     Apakah Lail benar-benar akan melupakan Esok? Mengapa Esok ingin ia lupakan?

Di lain sisi, kondisi bumi tidak lagi bersahabat untuk ditempati. Semuanya adalah dampak dari bencana alam yang diceritakan melebihi dahsyatnya letusan gunung krakatau yang pernah terjadi berpuluh tahun yang lalu. Iklim dunia berubah total, ditambah lagi dengan ..... yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin memperbaiki keadaan secara instan namun malah memperburuk keadaan. Cepat atau lambat suhu bumi akan terus meningkat dan tak lagi layak huni.

Esok, adalah pemuda genius yang ikut dalam pembuatan pesawat kapsul yang mampu menampung penduduk bumi untuk misi penyelamatan. Sayangnya kendaraan canggih itu hanya dapat menampung mereka dalam jumlah terbatas. Setiap penduduk yang terpilih akan mendapatkan tiket "penyelamatan" tersebut. Siapapun yang tidak mendapatkan tiket, ia akan tetap berada di bumi. Esok hanya punya dua tiket. Jika satu tiket untuk dirinya sendiri. Satu tiket lagi untuk siapa?

Siapakah yang akan diajaknya naik ke kapsul "penyelamatan"? Apakah ibunya yang juga selamat dari bencana tersebut? Atau putri wali kota yang juga baik kepadanya? Atau ...... Lail?

"Barang siapa yang bisa menerima, 
maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. 
Tapi jika dia tidak bisa menerima,
dia tidak akan pernah bisa melupakan" - Hujan, Tere Liye.

Buku ini mengajarkan tentang penerimaan, terutama menerima hal-hal yang menyakitkan, memeluknya erat dan belajar berdamai dengan setiap peristiwa, yang memang tidak mudah. Buku ini menunjukkan bahwa penerimaan jauh lebih bijaksana dari pada melupakan.

Tumb-up untuk buku ini. Tere Liye pandai sekali meramu kata, mengubah yang sederhana menjadi luar biasa. Keputusan Esok unpredictable dalam buku ini. Endingnya pun cukup memuaskan.     

Keempat, Tentang Kamu. 
Saya bersyukur memiliki buku ini dengan tanpa membelinya. Kado dari mama di ulang tahun saya beberapa bulan yang lalu. Mom knows what I want… love you


Melalui novel ini lagi-lagi Tere Liye kembali mengajarkan tentang makna kehidupan. Buku ini bercerita tentang perjuangan, semangat pantang menyerah, kesabaran, persahabatan, penghianatan, kesetiaan, cinta, dan pengorbanan. Adalah Zaman Zulkarnaen, pemuda lulusan Oxford University, yang bekerja di salah satu firma hukum di London benama Thompson & Co.

Belum lama ia bergabung dengan firma hukum ini, Zaman mendapat sebuah kasus besar, yaitu mengurus warisan dari seorang klien yang baru saja meninggal di Paris. Klien tersebut adalah seorang perempuan berusia 70 tahun, menghabiskan masa tuanya di sebuah panti jompo yang terletak tak jauh dari ikon kota Paris, yaitu menara Eifel.  Hal itu menjadi tidak mudah karena klien tersebut meninggalkan kekayaan fantastis sebesar satu milyar pounsterling atau senilai 19 triliyun rupiah dalam bentuk kepemilikan saham tanpa adanya ahli waris. Kasus ini membuat Zaman harus menelusuri kisah hidup kliennya tersebut untuk mencari ahli warisnya. Yang menarik adalah, klien tersebut bernama Sri Ningsih, dari namanya jelas berasal dari Indonesia, asal negara yang sama dengan Zaman.

Perjalanan Zaman mencari informasi tentang Sri Ningsih melalui petunjuk buku harian milik Sri dan surat-surat yang pernah ia kirim ke sahabatnya sama menariknya dengan perjalanan hidup Sri Ningsih itu sendiri. Siapa sebenarnya Sri Ningsih? Bagaimana bisa seorang perempuan tua yang tinggal di panti jompo bisa memiliki kekayaan sefantastis itu? Tentu ia bukan orang biasa. Selain itu, bagaimana pula perjalanan Zaman untuk memecahkan kasus ini? Tentu tidak mudah, ia bahkan harus menelusuri beberapa kota dan negara.

Endingnya bikin salut, tak cuma pada Sri Ningsih, tapi juga cara Zaman menyelesaikan tugasnya ini sangat briliant dan profesional. Apalagi dibubuhi potongan konflik yang terjadi pada kehidupan Zaman sendiri. Satu lagi yang menarik adalah bahasa dalam setiap lembar buku harian yang ditulis oleh Sri Ningsih, mengalir indah penuh diksi.

Halaman pertama buku harian Sri Ningsih.

Walaupun sudah lebih sebulan buku ini menghiasi rak buku, namun baru sempat dibaca beberapa hari yang lalu dan selesai dibaca tepat 31 Desember 2016 pukul 14.34 WIB. Buku 524 halaman ini memecahkan rekor membaca tercepat saya setelah Rembulan tenggelam di Wajahmu. Seharian baca buku ini, dan... selesai.

Padahal untuk menjadi sebuah buku hebat ini, tidaklah secepat membacanya. Beberapa negara dan beberapa kota detail sekali diceritakan dalam buku ini. Apakah Tere Liye benar-benar pernah mengunjungi setiap tempat tersebut? Dengan latar waktu 1940-an? Tidak mungkin. Ah... riset yang luar biasa yang dilakukan penulis. Bayangan tentang rute 16 London jelas sekali tergambar, suasana pondok pesantren di Surakarta, Jakarta tempo dulu, Little India, panti jompo di Paris, dan Pulau Bungin, Sumbawa semua seolah-olah nyata pernah dikunjungi oleh seorang Sri Ningsih. Satu fakta yang mengejutkan yang diinformasikan oleh buku ini ternyata di suatu wilayah benar-benar ada kambing yang makan kertas. Oh... God... saya kira hanya ada di serial kartun Doraemon. Ternyata ...

Sumber: google.
Pulau Bungin, Sumbawa. 
Sangking padatnya tidak ada tempat rumput untuk tumbuh (baca: Surat Sri)

Hal-hal yang dicoretkan di atas hanya gambaran umum secara singkat tentang isi buku hasil pemikiran kreatif Tere Liye. Kalau mau tahu cerita detailnya, teman-teman bisa browsing langsung sinopsis masing-masing buku tersebut atau alangkah lebih baiknya membeli dan membaca bukunya secara langsung. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama belajar dari karya-karya Tere Liye.
 
*********************************************************************************

Dari keempat novel karya Tere Liye yang berhasil saya baca sampai selesai itu, ada beberapa persamaan menurut saya. Apa saja?

Persamaan Novel-novel Tere Liye
Pertama, keempat novel itu sama-sama menceritakan tentang kehidupan seorang yatim piatu. Tania, Dede, Danar, Ray, Lail, dan Sri Ningsih, mereka semua adalah anak yatim piatu. Zaman dan Esok pun adalah anak yatim. Entah kenapa Tere Liye sepertinya suka sekali membuat tokoh utama yang yatim piatu. 

Kedua, tokoh utamanya mempunyai semangat dan keahlian yang WOW.

  • Tania, mampu menyelesaikan pendidikannya universitas di Singapura.
  • Ray, siapa yang meragukan kemampuannya saat men-design gedung pencakar langit sekalipun?
  • Lail, perawat yang dapat diandalkan.
  • Esok, ketertarikannya pada ilmu dan teknologi menjadikannya seorang ilmuan yang cerdas.
  • Zaman Zulkarnaen, seorang lawyer hebat yang berani mempertaruhkan hidup dan matinya demi tegaknya keadilan.
  • Sri Ningsih, seorang perempuan sederhana yang multalented

Ketiga, menggunakan alur maju-mundur. Ibarat sinetron, keempat novel ini sering mengajak pembacanya flashback ke masa lalu. 

*********************************************************************************

Buku Tere Liye, tapi kok ada yang ganjal ya?


Yah, walaupun karya Tere Liye tak bisa diragukan lagi apalagi yang berpangkat best seller, tapi yang namanya manusia tetap aja manusia. Ada beberapa keganjalan yang cukup membuat saya berkali-kali membaca pada part tertentu. Tapi yang paling mencolok dan cukup mengganggu saya adalah di novel Rembulan tenggelam di Wajahmu

Pada bagian ketika bulan tahun baru Arab yang kebetulan bertepatan dengan tahun baru Cina, okeh, pada bagian ini anggap saja pernah atau akan pernah terjadi. Tapi tidak masuk akal ketika pada malam hari setelah Ray dan istrinya menghadiri acara Lomba Busana Oriental, istri Ray mengalami pendarahan langsung di bawa ke rumah sakit, dan wanita yang dijuluki Si Gigi Kelinci itu, akhirnya keguguran kemudian meninggal dunia. Sore harinya ia dimakamkan tepat sehari sebelum lebaran.

Jika yang dimaksud tahun baru Arab ini adalah tahun baru Hijriyah, nah kan jadi tidak masuk akal, masa kejadiannya awal tahun baru Hijriyah, artinya bulan Muharam, terus dimakaminnya di sore hari sebelum lebaran berarti bulan Syawal dong ya??? Berarti meninggalnya di bulan Ramdhan gitu? Hmmm... Maafkan saya yang mungkin gagal paham, atau memang ...

Setuju atau tidak pembaca itu selalu menuntut sempurna, padahal kalau disuruh nulis yang mungkin bisa lebih parah kesalahannya. Maafkan kami :'D

Tapi di luar itu semua, saya suka cara beliau menuturkan setiap kata dalam setiap cerita. Sederhana tapi menarik. Setiap buku yang ia tulis tidak sekadar mengajak kita berimajinasi namun juga memberikan pemahaman-pemahaman baik tentang kehidupan, tetap tanpa terkesan menggurui. 

Masih ada beberapa karya Tere Liye yang belum tapi ingin sekali saya baca, salah satunya Sunset bersama Rosie. Semoga ada kesempatan memiliki dan membacanya. Amin. Saya juga masih akan berjuang membaca  Pulang dan Rindu, mungkin jika dibaca terus, nantinya juga bakalan suka, seperti pepatah tak kenal maka tak sayang.   


Sekali lagi apa yang saya sukai boleh jadi memang bagus, tapi apa yang tidak saya sukai juga belum tentu itu buruk, ini hanya soal selera, murni soal SELERA. 

Aduh, kok coretan ini jadi sepanjang ini ya, terima kasih sudah membacanya sampai ke baris ini. Kamu juga penikmat karya Tere Liye? Yuk, berbagi pengalaman membaca di kolom komentar. Salam.


Oh… ya bagi teman-teman yang ingin membeli buku karya Tere Liye atau buku karya penulis lainnya, tak perlu repot ke toko buku, bisa mampir dan pesan langsung di  lapak "GIE". Tiga buku Tere Liye saya beli di sini. Tidak cuma buku fiksi tapi ada yang non-fiksi juga. Kuys... langsung cek tekape:


Facebook: Gie
Instagram:  gie_mitra_buku

34 komentar:

  1. waah... banyak juga bacaan tere liye nya ya...
    Yg hapalan surat delisa, waktu nonton film nya, saya gak tau kalo film ini diambil dari novel karya tere liye :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma segitu kok mbak :)
      Hihi... iya mbak diadaptasi novel Tere Liye itu...

      Hapus
  2. Sepertinya kalau masalah cinta saya masih trauma deh mbak dan sampai sekarang pun saya belum bisa bercinta lagi.

    BalasHapus
  3. Dulu, mungkin saya adalah orang yang paling malas untuk membaca, apalagi membaca pelajaran. Kadang saya ingin membaca eh malah ketiduran.
    Beruntunglah saya dikenalkan seorang teman dengan yang namanya NOVEL. Dari situlah saya jadi suka membaca, bukan cuma membaca novel tapi juga membaca pelajaran. Ada Novel Gratis nggak? heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow begitu hebat pengaruh novel sampai juga suka buku pelajaran, boleh dong berbagi tipsnya :D Gratis??? ada, ada dalam bentuk foto aja dulu ya gratisnya :D

      Hapus
  4. Membaca dari cerita orang lain? sungguh unik sekalii.. aku malah kurang suka nonton hanya diam dan melihat itu sungguh membosankan. Kebalik ya? ehehe

    Oh ya barusan aku baru dari gramed dan pengen buku Tere tentang hujan, tapi gagal gegara aku pikir itu gak menarik. Tapi setelah aku baca ulasanmu kayaknya aku jadi tertarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... tergantung bukunya sih mbak, ada juga yang lebih suka dibaca :)

      Recomended menurut saya, tapi balik lagi ke soal selera... hehe...

      Hapus
  5. Aku udah beli buku Tere Liye yang Bidadari-Bidadari Surga, tapi masih belom tamat.. Banyak buku yang saya baca, tapi saya masih belum sekalipun nulis resensi karena suka bingung harus mulai dari mana.. Hahaha, malah curhat nih saya.. Kayanya buku Tere Liye yang lain bagus-bagus juga ya.. Jadi pengen baca.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bidadari-Bidadari Surga sudah ada difilmkan kan ya, nonton filmnya aja kalau begitu...hihi...

      Hapus
  6. Aku belum baca semua novel Tere Liye hehehe. Mungkin kalau diperhatikan tokoh yang ditulis Tere Liye selalu yatim piatu ya, hmm. terlepas dari semua itu setiap novel yang digarapnya selalu menghasilkan pesan tersendiri. terlebih tentang kehidupan dan cinta *eaaak. sejauh ini saya paling suka novel tentang kamu. Masya Allah rasanya saya bisa merasakan setiap jengkal perjalanan kehidupan Sri Ningsih. dan alurnya pun tak terduga-duga. aduhhh komentarnya jadi kepanjangan. wkwkwk gpp ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dek, kebanyakan yang yatim piatu tapi setiap tokoh punya cerita masing-masing yang berbeda. Kental banget memang pesan kehidupannya, cerita cintanya juga gak biasa. Masih ada gak ya Sri Ningsih lain di kehidupan nyata...hihi... tapi masih penasaran sama Si Rosie, belum sempat baca *eh belum punya bukunya ding. Gpp dong, ni dibalas panjang juga :D

      Hapus
  7. Dulu sebelum ngeblog saya suka banget baca novel tapi sekarang hampir tidak menyentuh novel tapi dari judul nya kelihatan menarik untuk dibaca novel karya tere liye

    BalasHapus
  8. Dulu sebelum ngeblog saya suka banget baca novel tapi sekarang hampir tidak menyentuh novel tapi dari judul nya kelihatan menarik untuk dibaca novel karya tere liye

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang lebih banyak blogwalking, baca tulisan teman ya :>

      Hapus
  9. Dan gw pernah salah menebak tere liye, gw pikir di ace tapi ternyata co

    BalasHapus
  10. Iya Tere Liye memang novel-novelnya bikin baper dan ngangenin ya mbak Kautsar. Saya harus baca nih, meskipun saya tidak suka cerita sedih tapi ada pelajaran berharga dibalik setiap cerita itu, kan ya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak Anjar, banyak pelajaran tentang kehidupan. Cerita sedihnya tetap elegan ya mbak gak menye-menye *aduh bahasa apa ini* :)

      Hapus
  11. Aku paling suka yang ayahku bukan pembohong

    BalasHapus
  12. Kalo dari empat novel itu, saya suka hujan & tentang kamu.
    Dahulu...saya pertama kalinya begitu semangat baca buku, juga gara-gara novel Tere Liye yang judulnya Bumi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, berarti Bumi juga keren ya ceritanya, bisa bikin jadi suka baca :)

      Hapus
  13. Wah, awalnya karena terpaksa malah jadi suka baca buku beneran, ya, hihihi, keren :) Aku belum baca-baca karya Tere Liye, nih. Kalau penulis kesukaan aku Roald Dahl. Kadang "missed" yang kamu temukan juga aku temukan di buku yang aku baca. ---Atau bahkan di tulisan yang aku buat. Hihihi, namanya juga manusia ya. Yang pasti selalu berusaha maksimal agar missed nya minimal ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh... dikomen sama penulis...hihi... *melting
      Iya bener banget, kata orang bijak manusia tempatnya salah dan khilaf, walaupun agak ngeganggu tapi dimaklumi dan yang penting tidak merusak "feel" cerita :)

      Hapus
  14. Aku paling suka post ini. Aku termasuk org yg ga pernah selesai baca novelnya krn kesibukan sbyg IRT tp tulisan ini merangkum semuanya... sukak bgt

    BalasHapus
  15. Penulis fenomenal dan sangat produktif. Setiap ngujungin toko buku, pasti saya liat ada buku Tere Liye, dengan judul yang beda-beda. Eh kalau gak salah beliau udah nerbitin puluhan buku ya? Salut.

    Oiya saya baru baca satu, Negeri Para Bedebah. Itu pun minjem dari kawan. Hehehe.

    BalasHapus
  16. Aku juga suka dengan buku sastra ,bahkan koleksiku sudah banyak. Tere Leye memang rajin menelurkan buku novelnya. Mungkin sudah tidak terhitung jumlahnya. Dan aku punya satu buku karyanya.

    BalasHapus
  17. masyaAllah ... sudah melahap ratusan, ribuan ..jutaan lembar ?
    semoga banyak hikmah yang dapat dipetik.

    baheula beberapa novel yg sempat baca :
    - Agatha Christie.
    - Sydney Sheldon.

    Terimakasih review novel saya senang nyimak di sini :)
    Membacanya di sini serasa deh mengenal lebih dekat Tere Liye.

    BalasHapus
  18. membaca novel dari orang lain ? kayaknya butuh dicoba itu:)

    BalasHapus
  19. Ijin Share & Promot Min :

    [WORO-WORO] ~ ( >>> PokerGT.com <<< ) Adalah Master Agen Gaple Online Terbesar, Terpercaya Dan Terbaik Di Indonesia
    Dengan Pengalaman Di Dunia Gaple Lebih Dari 5 Tahun Serta Telah Melayani Ratusan Bahkan Ribuan Pelanggan Setia Yang Tersebar Di Seluruh Indonesia.
    Pelayanan Cepat Dan Online 24 Jam Nonstop, Proses Depo Dan WD Paling Aman Dan Sangat Cepat.
    Ayo Tunggu Apa Lagi Segera Gabung Bersama Dan Menjadi Salah Satu Bagian Dari Kami Di ( >>> PokerGT.com <<< )
    Dengan Minimal Deposit Rp.10.000 Anda Sudah Bisa Bertaruh Dalam Meja Dan Memungkinkan Anda Mengumpulkan Poin Untuk Mendapatkan Hadiah Special Yang Sudah Kami Sediakan Untuk Anda.
    ( >>> PokerGT.com <<< ).

    BalasHapus
  20. dulu kukira Tere Liye itu perempuan, eh ternyata
    paling suka aku hafalan shalat delisa
    simpel ceritanya tapi mengenaaaaa bangeeet

    BalasHapus

Komentar kalian motivasi menulis saya. Terima kasih atas komentarnya :)