Selasa, 15 September 2015

Hari ini di Kotaku

Hari ini di kotaku. 

Beberapa bulan belakangan, masuk ke musim kemarau. Ada yang berbeda di kemarau tahun ini. Sumur tua milik tetangga yang konon katanya ada "penunggunya", sekarang airnya perlahan menyusut. Mungkin "penunggunya" sedang lemah atau mungkin menyerah dengan kemarau panjang ini. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, banyak orang yang sudah kehabisan air, mengambil air di sumur tua itu, dengan menyelipkan rupiah ke dalam kotak samping sumur itu, semampunya, keikhlasnya. Jikalau kertas rupiah itu sebagai syarat atau sesajen untuk "penunggu" sumur tua itu, mungkin sajen yang diberikan orang-orang yang mengambil air di sana kurang banyak, jadi "penunggunya" murka, sehingga sumur itu tak lagi ada airnya. Manusia sekarang, ikhlas itu jika memberi yang bernilai kecil.

Miris sekali sebenarnya, melihat "sebagian" orang-orang di kotaku yang masih percaya dengan hal-hal yang seperti ini. Percuma jika dinasihati, karena yang menasihati mesti "dicibir" warga sana-sini, mereka pikir gara-gara orang inilah sumur tua itu kering, tepatnya karena ada orang yang tidak percaya dengan "kekeramatan penunggu" sumur tua itu. Kekuatan ada di saat kita percaya. Memang tidak salah menurutku, tapi menjadi salah jika kepercayaan itu diberikan pada sumur tua itu. Air sumur itu kering karena sudah lama tak hujan, sedangkan air digunakan terus-menerus. Dan jelas di teve memang telah diberitakan kemarau tahun ini akan lebih panjang karena adanya badai El Nino. Siapa El Nino?

Hari ini di kotaku.

Isu tentang El Nino mulai menyebar. Kurang saktinya "penunggu" sumur tua, membuat pamor sumur itu pun menurun. Orang-orang mencari kambing hitam lain untuk disalahkan karena ketidakcukupan persediaan air. El Nino, iya El Nino. Kata El Nino mendadak naik daun, dikutuk-kutuk, dicaci-maki, tanpa tahu siapa atau apa itu El Nino.

"El Nino sendiri merupakan badai besar yang terjadi di lautan karena adanya arus dan gelombang pasang tinggi yang menghempaskan luapan air yang besar. Badai El Nino adalah suatu fenomena alam yang langka karena hampir tidak pernah terjadi sesering fenomena lain di lautan seperti gelombang, badai, ataupun arus. Itulah yang membuat kemarau tahun ini lebih panjang dari pada tahun-tahun yang lalu" (sumber) Penjelasan seperti ini tidaklah begitu penting untuk "sebagian" warga kotaku. Tidak usahlah dijelaskan, cukuplah dengan mengenal El Nino mereka tak lagi memuja "penunggu" sumur tua itu. 

Hari ini di kotaku.

Pasokan air yang semakin menipis sebenarnya bukanlah masalah utama pada kemarau tahun ini. Tapi langit yang menguning, oranye pekat membuat seisi bumi kotaku tidak nyaman. Bencana kabut asap melanda kotaku. Kabut asap yang paling parah, katanya.

Hari ini di kotaku.

Kabut asap semakin pekat. Jarak pandang mulai memendek. Kata berita di teve jarak pandang hanya sekitar 200 meter. Mungkin saja benar. Buktinya, jika berdiri di pinggir satu-satunya sungai di kotaku, biasanya aku dapat menikmati pemandangan menara di seberang sungai, kali ini tidak, tak ada menara, kekokohannya tertutupi serangan kabut asap.





Bahkan keluar rumahpun harus dengan masker, jika tidak kabut asap akan leluasa masuk ke paru-paru. Artinya biaya hidup warga akan bertambah sekian ribu untuk membeli masker. Di suatu sisi, ada keberkahan tersendiri dari bencana ini. Tidak sedikit orang di kotaku mencari rezeki dengan menjadi penjual masker dadakan. Alhasil banyak sekali penjual masker di sepanjang jalan kotaku. Rezeki Tuhan yang atur, rezeki itu turun ketika umatnya bersyukur.

Di lain sisi, ada pula yang "memanfaatkan" bencana ini untuk berbagi, yah... berbagi masker. Tak sedikit komunitas-komunitas sosial yang membagi-bagi masker kepada pengendara motor di persimpangan-persimpangan jalan kotaku, ada pula dari tim kampanye calon pejabat, memberi masker sambil mempromosikan kandidatnya, entah apa niatnya, tulus untuk berbagikah atau ada kehendaknya yang lain, biarlah Tuhan yang menilai.

Hari ini di kotaku. 

Kabut asap semakin pekat. Oranye langit semakin jelas. Matahari kini memerah, tak tampak lagi sinarnya yang biasanya menyilaukan mata. Pagi, siang, sore tak ada bedanyanya. Hampir semua orang menggunakan penutup hidung dan mulut. Ada yang menggunakan masker ada pula sapu tangan.


Hari ini di kotaku.  

Sudah beberapa hari, kegiatan di sekolah diliburkan. Pemerintah kota berdebat dengan departemen (kementrian) pendidikan kota mengenai hal ini. Tentu tindakan yang baik sebagai pemerintah yang memikirkan kesehatan rakyatnya, pemerintahan kota meliburkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah, namun departemen (kementrian) pendidikan kota juga sangat peduli dengan pendidikan anak bangsa, yang tentunya akan terhambat karena libur yang tidak terduga ini. 

Kabut asap semakin menebal. Kami mulai menjatah oksigen, karena tak benar-benar oksigen lagi yang kami hirup. Tak sedikit hidung masyarakat kotaku sepertinya yang tak mampu lagi menyaring sempurna udara yang pantaslah disebut polusi itu, perlahan karbondioksida menyelinap masuk melalui celah-celah bulu hidung, melewati trakea, sehingga mereka membabi buta di paru-paru. Banyak warga kotaku terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dan kini.... ditambah "hujan" abu, mengerikan. Entah manusia yang tidak bertanggung jawab mana yang telah membakar "paru-paru kota"-ku.


Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di kotaku menunjukkan dalam tingkat BAHAYA, begitulah yang ku baca dari koran harian daerah. Departemen (kementrian) pendidikan akhirnya berdamai dengan pemerintahan kota, mereka sepakat meliburkan siswa dengan pemberian tugas rumah, artinya para siswa di kotaku diliburkan sekolah tapi tidak diliburkan belajarnya.
  
Meski awalnya aku senang dengan liburan ini. Tapi lama-kelamaan menjadi tidak nyaman. Beberapa kali sekolah diliburkan, beberapa kali pula diberi PR, sama artinya dengan belajar, bedanya biasanya di sekolah, sekarang di rumah. Bukankah belajar di sekolah itu lebih menyenangkan? Ada guru tempat bertanya, ada teman tempat berbagi (ilmu).

Hari ini di kotaku.

Aku suka langit senja. Tapi bukan senja yang sepanjang ini. Aku benar-benar tak lagi bisa membedakan senja yang sebenarnya. Hari ini di kotaku, aku hanya berdiam diri di rumah. Dulu, aku tak di umurku sekarang. Dulu, sewaktu aku masih belajar berhitung, langit pernah seperti ini, tiba-tiba badai mengetuk pintu. Ada sosok manusia berbuntut kuda tepat di depan pintu, setelah itu aku tak begitu ingat apa yang terjadi. Kali ini tidak, tidak ada manusia setengah kuda, yang ada debu pekat, menusuk dada. Jika mengingat cerita itu, ingin rasanya menertawakan masa lalu, bagaimana bisa cerita manusia setengah kuda selalu ku ceritakan ketika pelajaran mengarang di bangku SD, memalukan jika mengingatnya, tapi dulu semua terlihat percaya dengan kata-kataku, begitupun sang guru. Seiring bertambah usia, aku sadar cerita itu tidak mungkin terjadi, sama halnya dengan sumur tua yang ada "penunggunya" itu.


Hari ini di kotaku.

Aku dan ibu hanya duduk menatap keluar jendela. Merenungi yang sedang terjadi di kota kami. Tak akan ada tsunami di kota kami, karena memang tidak ada laut. Tak akan ada gunung meletus, karena gunung jauh dari kota kami. Tak ada banjir yang berlebih, karena kota kami termasuk dataran tinggi. Gempa bumi pernah terjadi, namun hanya getaran kiriman dari kota tetangga atau provinsi tetangga. Namun tetap saja akan berbeda jika Tuhan menghendaki. Bencana kabut asap inilah yang setiap tahun setia mengunjungi kota kami. Di suatu sisi, ini menandakan masih banyak hutan di kota kami, di sisi lain menunjukkan keterbelakangan atau "keterlalumajuan" pendidikan mengenai tata cara membuka lahan di kota kami. Beritanya, kabut asap parah ini tak hanya karena kemarau yang cukup panjang, namun juga ulah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab, membakar hutan untuk membuka lahan perkebunan.


Hari ini di kotaku.

Aku dan ibu masih duduk menatap keluar jendela. Merenungi yang sedang terjadi di kota kami. Kata ibu bencana adalah ujian bagi yang beriman sekaligus azab bagi yang kufur (yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan). Kata ibu kabut asap ini bertanda dosa yang banyak, sampai "rintik abu" itu artinya dosa manusia yang bertambah banyak, dan untuk menghentikannya yaitu dengan hujan, supaya turun hujan maka manusia harus bertaubat. Wallahu 'alam bissawab....



Semoga hari esok lebih baik di kotaku. #PrayForJambiDanSekitarnya












Sumber gambar: di sini di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, dan di sini.

10 komentar:

  1. Semoga ujian ini cpt berlalu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga... amin... terima kasih ....

      Hapus
  2. Sudah kemarau, ada asap juga.. .. Semoga bisa seegra teratasi

    BalasHapus
  3. sabar aja ntar kalau musin dah selesai akan hilang itu asap,,,, musim cuaca itu akan selalu bergantian sesuai siklus alam,,,,betul g

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya cuma tahun ini harus lebih lama aja pake maskernya :')
      mudah-mudahan musim ini cepat berganti....

      Hapus
  4. MasyaAllah... saya sedih jika harus membaca ttg asap yang terus menggempur.
    Semoga Allah selalu melindungi. Semoga asap cepat pergi. Semoga hujan segera turun. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah...
      makasi kak kunjungannya :)

      Hapus
  5. kebetulan saya lagi di malaysia,asapnya samppai sini bikin pedih dimata,bagaimana ya yang terdekat,pasti sangat sesak rasanya,semoga lekas turun hujan dan tahun kedepannya tidak ada lagi yang berbuat membakar hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah...
      di sini di dalam rumah pun terasa asapnya...
      jd gak enak sama negara tetangga...
      iya moga lekas turun hujan...amin...

      Hapus

Komentar kalian motivasi menulis saya. Terima kasih atas komentarnya :)