Minggu, 29 Mei 2016

Keramat "Menurut Saya"


Belum lama ini kami kehilangan kucing yang sedari lahirnya sudah tinggal bersama kami. Ia bukanlah jenis kucing mahal. Ia hanya kucing kampung yang telah kami anggap sebagai anggota keluarga. Jikalah boleh namanya dicantumkan ke kartu keluarga, boleh jadi sudah saya urus segala macam administrasinya. Tapi itu tidak mungkin.

Setelah hampir enam tahun ia meramaikan rumah ini, entah penyakit apa yang menyerangnya, tak sampai satu bulan kesehatannya memburuk, dan akhirnya kembali ke Sang Khalik. Memang pada hakikatnya setiap yang hidup pasti akan mati.

Bicara soal kematian, apa yang ada dibenak kamu jika mendengar kata "kematian"?


Menakutkan, seRRaMMM, menyedihkan, atau bahagia?

Banyak jawaban yang mungkin ada di benak kamu, dan mungkin akan berbeda dengan kamu-kamu yang lain.

Berbagai macam sikap manusia menghadapi kata yang "keramat" menurut saya itu. Yang tak bisa dipungkiri bahwa tak hanya kucing bahkan manusia pun tak ada yang tahu kapan ia akan menghadapi keramat "menurut saya" itu. Kematian itu takdir, yang namanya takdir Tuhan yang tentukan. Bagaimana bisa manusia bisa menyalahi takdir Tuhan, kecuali manusia itu mampu menyaingi ilmu Tuhan, tapi sayang pasti tak sanggup.

Mengapa saya mengatakan kematian itu "keramat"???

Di suatu sisi, saya merasa tak sanggup jika harus berpisah dengan siapa-siapa yang sangat saya cintai. Saya tak mampu kalau nanti harus benar-benar sendiri. Padahal saya tahu bahwa Tuhan akan mempertemukan kembali orang-orang yang beriman kelak di syurga, tapi saya pun masih takut. Membayangkan nantinya akan terbujur kaku berbalut kain putih di gelapnya perut bumi, serangga, belatung, dan hewan-hewan kecil mengerumuni, na'udzubillah min dzalik. Ini jelas menandakan bahwa iman saya tak ada apa-apanya, tak seberapa besar bahkan sangat kecil dibandingkan dengan mikroorganisme terkecil sekalipun. Tapi lagi-lagi saya menyadari, bahwa "keramat" itu tak akan mampu saya hindari, bagaimana pun ketidaksiapan saya.

Jujur kadang saya iri melihat seseorang yang tak sedikit pun kelihatan takut akan kehilangan napasnya, karena ia telah mengisi tiap tarikan dan hembusan napasnya dengan mengingat Allah. Apapun yang ia lakukan di dunia semata-mata untuk ibadah kepada Allah, bahkan mencari nafkah pun dengan niat mencari ridho Allah. Saya yakin orang yang seperti ini tak akan pernah ngeluh dengan hidupnya, sampai ia ikhlas dengan kematiannya karena percaya itu kehendak Allah, ia sebagai hamba dengan senang hati menyerahkan hidupnya untuk Tuhan Yang Maha Menghidupkan. Benar-benar iri dengan orang yang dengan yakin bahwa kematiannya akan menghantarkan ia bertemu Tuhannya, masya Allah ....

Di sisi lain, kematian adalah muhasabah terbaik yang pernah saya temui. Bagaimana tidak, jika ditemui dengan kata "kematian", saya langsung teringat bahwa suatu saat saya pun juga akan mengalami demikian, untuk apa berlebih-lebihan dalam masalah dunia toh kehidupan sebenarnya di ada di alam akhirat. Bukankah sangat menyenangkan untuk berkumpul lagi dengan orang-orang yang dicintai kelak di syurga? Amin. Seketika saya akan menjadi orang yang sangat baik, yang selalu taat dan patuh berbuat untuk Allah SWT. Namun sebagai manusia yang sering sering sering khilafnya, muhasabah itu kadang seperti batre hape yang semakin melemah dan akan habis kalau tidak segera di charge.

Teringat suatu film barat tapi lupa judulnya, yang inti ceritanya adalah tentang kematian yang datangnya tak pernah terduga. Berawal dari kisah seorang laki-laki yang memiliki firasat buruk sehingga batal berangkat dengan pesawat yang akan ditumpanginya. Sebelumnya ia mendapat "penglihatan" kalau pesawat itu akan mengalami kecelakaan. Ia berusaha memperingati penumpang lainnya agar juga menunda keberangkatan. Tak banyak yang percaya, namun lelaki itu terus meyakinkan yang lain. Hal tersebut membuat suasana menjadi gaduh, sehingga ia diusir dari pesawat tersebut beserta beberapa orang temannya. Kemudian apa yang terjadi??? Benarlah beberapa saat setelah pesawat lepas landas, mereka menyaksikan pesawat tersebut meledak. Semua penumpang tewas, dan beruntunglah mereka yang diusir dari pesawat tersebut, temasuk lelaki tersebut. Itu baru awal dari film tersebut, klimaks ceritanya yaitu saat satu-persatu dari mereka yang selamat akhirnya menemukan ajal mereka dengan cara-cara yang tak terduga dan cenderung menyeramkan. Sutradara film ini sangat apik mengatur alur cerita tentang kematian mereka.

Film "yang saya lupa judulnya" itu benar-benar bikin parno penonton terutama saya pribadi. Bikin greget tiap kali ada tanda-tanda kematian tersebut. Namun jika kita dapat memetik ibrah atau hikmah dari film horror ini, film ini baik untuk mencharging iman kita untuk selalu percaya akan takdir Allah. Parnoan, ketakutan, dan apa pun itu merupakan indikasi harus mempertebal keimanan. The conclusion is "Bagaimanapun, kapanpun, dan sedang apa pun, datangnya ajal hanya Allah yang tahu".

Well, balik ke kata keramat. Menurut kamus bahasa Indonesia kecil-kecilan yang saya punya, keramat itu artinya "dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia". Meskipun kata ini biasa dipakai untuk benda atau tempat, namun menurut saya kematian pun mampu memberikan saya sentruman yang getarannya tak mampu saya defenisikan, itu sungguh di luar kemampuan manusia. Wajarlah jika saya katakan bahwa kematian itu adalah keramat "menurut saya". Bagaimana dengan anda? Sependapat? Jika tidak, mungkin sudut pandang kita berbeda, tak perlu diperdebatkan. Wallahu'alam bis sawab ....



Foto Kenangan ...
Kucing kami yang selalu awet muda, nama Bean
(dibaca: beyan) dan cara tidurnya yang ngangenin .

Bean dan anak-anaknya "4 Generasi".

Dari sekian kali melahirkan, tidak ada satupun umur
anaknya yang lebih panjang dari pada Bean.

Induk kucing pun sangat menyayangi anaknya :')







___
Sumber gambar paling atas: kataniesha.wordpress.com 

18 komentar:

  1. Ah, kematian kucing memang bisa membuat sensasi emosional tersendiri. Gua juga punya kucing, dan ngalamin rasanya ditinggal mati kucing yang udah bertahun-tahun jadi penghibur seluruh anggota keluarga. Kucing kampung biasa juga, bukan yang ras eksklusif dan mahal, tapi kesetiannya luar biasa.

    Oke, skip tentang kucing. Bicara mengenai kematian, yang ada di pikiran gua langsung... takut. Padahal sebagai muslim, kita sebaiknya ngga merasa takut akan kematian, toh dalam Al Qur'an Allah SWT sudah menyatakan bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Tapi tetep aja hehe, sampe saat ini gua masih belom bisa memandang kematian sebagai sesuatu yang normal. Apakah mungkin karena gua belom siap? Padahal ajal bisa menjemput kita kapan aja kan...
    Hm, jadi renungan mendalam nih malem ini hehe.

    Atau bener kalimat di atas: "saya merasa tak sanggup jika harus berpisah dengan siapa-siapa yang sangat saya cintai" mungkin ini juga yang jadi dasar kenapa gua takut menghadapi kematian :(

    Tentang film barat itu, judulnya "Final Destination", udah ada sekuelnya banyak. Kalo yang ditulis di atas, itu seri yang pertama. Kalo gua pikir, betapa aneh kematian di film itu dipertontonkan, seolah malaikat maut ngga rela tugasnya diinterupsi oleh seorang anak muda, jadilah si malaikat maut terus membuntuti mereka-mereka yang "seharusnya" meninggal.

    Gua suka kalimat ini: "Bagaimanapun, kapanpun, dan sedang apa pun, datangnya ajal hanya Allah yang tahu" :)

    Itu foto anaknya si Bean yang lagi pada nyusu lucu juga, corak bulu-bulunya unik, kayak induknya, tiga warna :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya final destination judulnya, satu sekuel flimnya aja ga sanggup ngelarinnya, terlalu ekstream menurut saya... ckck

      Ga penting jenis kucing apa, yang penting setia dan ga banyak tingkah, sampe sekarang tu kucing ngangenin :')

      Hapus
  2. pastinya sedih ya ditinggalin kucing kesayangan rumah. Rasanya saya juga pernah menonton film tsb, tapi judulnya lupa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak rasa ada yang hilang di rumah, Final Destination judulnya mbak *udahdapetcontekandariyangkomendiatas* :)

      Hapus
  3. Kalau aku bukan kucing sih, tapi hamster. Dulunya adikkq yang beli. Trus karena gak ada kandang, jadi tak beliin kandangnya. Awalnya kadang sebel liat si hamster bikin berisik di kandang, soalnya kandangnya ada mainnanya. Tapi klo pas adikq sekolah, gak ada yang rawat, terpaksa rutin tak kasih makan, bersihin kandang. Setelah meninggal si hamster, entah mengapa jadi kangen dan merasa sepi lo gak denger suara gaduh dan berisik si hamster di tengah malam mainan sendiri di kandang T,T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang kadang perasaan itu baru kita sadari ketika kita kehilangan :')

      Hapus
  4. kucingnya lucu2 (⌒˛⌒ )
    sedih juga sih kalo kucing mati. Kalo mati mah dikubur.
    tapi bukannya kucing itu punya 9 nyawa ƪ(˘˛˘)ʃ

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin nyawa2 lainnya udah disumbangin pada kucing yang tidak mampu #eh

      Hapus
  5. kucing lucu bangett..
    Yang sabar ya mbak atas kematian kucingnya

    BalasHapus
  6. Manusia mati emang sudah pada umumnya, kucing mati juga sudah selayaknya, cuma yang membedakan cara matinya itu berbeda-beda. Maka dari itu jangan sampai Hati kita yang mati agar bisa menyerap segala peringatan yang tertuang Dalam Al-Qu'an dan Hadist

    BalasHapus
  7. Menurut saya Kematian itu adalah hak dan kwajiban bagi segala yang hidup.
    Setiap yang hidup pasti mati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali, semoga kita termasuk khusnul khotimah...

      Hapus
  8. Jika bicara tentang kematian, semangat ngeblogku jadi berkurang. Betapa banyak artikelku yang isinya gosip murahan. Dan bahkan ada yang memancing emosi sang pembaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dijadiin motivasi aja mas untuk jadi lebih baik, jangan sampai malah ga semangat. Menurutku artikelnya bagus kok, realitanya emang gitu :)

      Hapus
  9. beyan mirip kucing akuh ngomong2,,,,
    bicara kematian, alangkah misterinya kata ini
    kalo tau detik-detik kapan tepatnya kematian itu kadang malah bikin hati gusar, sudahkah amalan kita cukup tuk dihisab di hari akhir

    BalasHapus

Komentar kalian motivasi menulis saya. Terima kasih atas komentarnya :)